JAKARTA – Kualitas udara di Jakarta kembali memburuk secara signifikan, dengan indeks kualitas udara (AQI) menembus angka 180 US AQI, menempatkan ibu kota dalam kategori tidak sehat bagi masyarakat. Kondisi ini terpantau sejak Minggu pagi (18/10/2026), di mana kabut polusi tebal menyelimuti kawasan pusat kota dan menghambat jarak pandang hingga hanya mencapai 1 hingga 2 kilometer.
Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai platform pemantau kualitas udara, konsentrasi polutan utama yang mendominasi adalah partikel halus PM 2.5 dengan angka mencapai 96 mikrogram per meter kubik. Situasi ini diperparah oleh kondisi meteorologis di wilayah Jakarta yang mencatat suhu udara antara 28 hingga 30 derajat Celsius dengan kelembapan tinggi mencapai 69 persen, serta kecepatan angin yang sangat minim, yakni hanya 6 kilometer per jam. Minimnya pergerakan angin menyebabkan partikel polutan terperangkap di lapisan atmosfer bawah.
Sejumlah warga yang beraktivitas di kawasan Bundaran Hotel Indonesia mengaku merasakan perbedaan kualitas udara yang cukup drastis dibandingkan pekan-pekan sebelumnya. Meski udara terasa lebih berat dan menyesakkan, tidak sedikit masyarakat yang tetap berolahraga tanpa mengenakan masker, kurang menyadari potensi risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh paparan partikel halus tersebut.
Berdasarkan analisis dari pihak otoritas terkait, terdapat dua faktor utama yang memicu memburuknya kualitas udara di Jakarta. Selain kontribusi emisi gas buang dari sektor transportasi yang terus meningkat, kondisi ini diduga diperparah oleh adanya kabut asap kiriman akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari wilayah Kalimantan dan daerah lainnya. Meski data terbaru menunjukkan bahwa pergerakan kabut asap tersebut mulai bergeser keluar dari kawasan Jabodetabek, kualitas udara diprediksi belum akan pulih sepenuhnya dalam waktu dekat.
Masyarakat diimbau untuk membatasi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih berada dalam ambang batas tidak sehat. Meskipun aplikasi pemantau memprediksi adanya perbaikan kualitas udara ke kisaran 140 hingga 150 pada beberapa jam ke depan, angka tersebut masih dikategorikan sebagai udara yang tidak sehat bagi kelompok sensitif. (*)



















