Hadiah Sayembara Rp 250 Juta Kasus Penyekapan Didesak untuk Korban, Bukan Pemberi Informasi

baraNews Jabar

- Redaksi

Kamis, 25 Juni 2026 - 01:55 WIB

5062 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANDUNG |  Polemik hadiah sayembara sebesar Rp 250 juta yang dijanjikan dalam kasus penangkapan Taufiq Hidayat, tersangka penyekapan perempuan di Jawa Barat, mencuat ke permukaan setelah pelaku berhasil ditangkap pekan ini. Isu ini tidak hanya mengundang perhatian luas masyarakat, melainkan juga menimbulkan perdebatan mengenai siapa yang layak menerima dana dalam jumlah besar tersebut. Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, sebelumnya mengumumkan hadiah itu sebagai bentuk apresiasi kepada siapa saja yang berhasil membantu pihak kepolisian melacak pelaku kejahatan yang sempat membuat gempar warga.

Setelah proses pengejaran, Taufiq Hidayat akhirnya berhasil diringkus di wilayah Ciparay, Kabupaten Bandung, oleh tim kepolisian yang bergerak cepat. Di tengah ramainya pemberitaan mengenai keberhasilan penangkapan, perhatian publik kini beralih pada sosok Dadang Ahyar Ismail. Pria 53 tahun yang merupakan mantan atasan tersangka justru mengambil langkah berbeda. Saat ditemui di kediamannya di Ciparay pada Rabu (24/6), Dadang menyampaikan sikap tegas dengan menolak hadiah sayembara tersebut bila memang diberikan padanya. Ia bahkan mendorong agar dana ditransfer langsung kepada korban, tanpa melalui perantara.

Dalam pernyataannya, Dadang mengaku dirinya mengetahui kabar pemberlakuan sayembara Rp 250 juta dari sang istri. Ia menyampaikan keprihatinan atas penderitaan korban dan berharap pemulihan korban menjadi prioritas utama semua pihak. “Kalau memang betul ada hadiah itu, alhamdulillah akan saya terima dan langsung saya kasihkan ke korban. Atau, jika memungkinkan, Pak Dedi berikan saja langsung ke korban, karena mereka yang lebih membutuhkan. Saya sendiri merasa ngeri membayangkan derita korban, mudah-mudahan lekas sembuh,” ujar Dadang, menekankan pentingnya empati dan keadilan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sikap Dadang yang memilih mengutamakan nasib korban alih-alih menerima hadiah, mendapat respek dan perhatian luas dari masyarakat baik secara langsung maupun melalui dunia maya. Di sisi lain, langkah ini sekaligus mempertanyakan efektivitas dan prosedur penyaluran hadiah sayembara dalam upaya penanggulangan kejahatan ke depan. Banyak pihak menilai, korban penyekapan membutuhkan waktu dan biaya untuk pemulihan fisik dan mental yang tidak sedikit. Selain perawatan luka fisik, korban juga dihadapkan pada trauma psikis yang belum tentu tertangani tanpa dukungan yang memadai.

Penetapan hadiah uang tunai dalam kasus kriminal memang bukan hal baru, namun pelaksanaannya seringkali menimbulkan perdebatan etis dan teknis. Dalam kasus ini, tuntutan agar hadiah diberikan untuk kepentingan korban, bukan sekadar bentuk penghargaan atas penyampaian informasi, dinilai sejalan dengan semangat perlindungan dan keadilan sosial bagi para penyintas kejahatan berat. Selain itu, publik juga berharap agar proses penyaluran kompensasi berjalan langsung dan transparan, tanpa berbelit birokrasi yang bisa menghambat penerima manfaat utama.

Kejadian ini menjadi peringatan penting bagi penegak hukum serta pemerintah daerah untuk selalu menempatkan hak dan kepentingan korban sebagai prioritas dalam setiap penyelesaian kasus kekerasan. Selain penindakan hukum kepada pelaku, perhatian terhadap pemulihan korban merupakan bagian tak terpisahkan dari keadilan yang diharapkan tercipta di tengah masyarakat.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah provinsi terkait mekanisme penyaluran hadiah tersebut. Namun reaksi cepat berbagai pihak menandai tingginya harapan adanya titik terang dan realisasi janji, tidak hanya bagi pengungkap kasus, tapi lebih utama lagi demi pemulihan dan masa depan korban yang harus dilindungi dan didukung bersama. (*)

Berita Terkait

Si Geulis, Digitalisasi Pengelolaan Obat untuk Pelayanan Kesehatan yang Lebih Baik
Keluarga Besar Dewi Apriatin Sampaikan Terima Kasih, Pernikahan Rini Anggraeni dan Azhar Dzulfiqar di Maison Grande Sukses Digelar
Tunggu Evaluasi Kemendagri, Pemprov Jabar Belum Ambil Keputusan Terkait Pinjaman Daerah
PKL Tak Dilarang, Tapi Lapak Permanen di Trotoar Bakal Jadi Sasaran Penertiban
Kemitraan Media Jadi Sorotan, SWI Jabar Minta Mekanisme yang Jelas demi Mewujudkan Informasi Publik Berkualitas
Dedi Mulyadi Pergoki Tambang Ilegal di Lahan PTPN, Desak Pembersihan Oknum Terlibat
Adu Mulut di Kejari Kabupaten Bandung, Sikap Kajari Tuai Sorotan Publik
Pegawai Kementerian PU Ditangkap Polisi, Budidayakan Puluhan Pohon Ganja di Rumah Pribadi

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 00:56 WIB

Prof Sutan Nasomal SH, MH, Soroti Klarifikasi Suami Fenny Frans, Jangan Alihkan Pokok Persoalan, Permintaan Maaf Terbuka Dinilai Lebih Tepat

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:20 WIB

KETUA UMUM ORMAS LBI BERHARAP ADA PERAN PEMERINTAH JABAR & BANDUNG UNTUK TUTUP SARITEM

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:05 WIB

Berkaria Foundation Kembali Gelar Aksi “Sarapan Gratis” Volume 6 untuk Warga Kota Cimahi

Rabu, 14 Oktober 2026 - 12:32 WIB

YJI Jabar dan PERKI Bandung Raya Gelar Seminar Hari Jantung Sedunia 2026: Dorong Kebugaran Generasi Muda Menuju Indonesia Emas 2045

Selasa, 13 Oktober 2026 - 20:56 WIB

Sinergi Ulama dan Umara, Ketua FPP Jabar Apresiasi Pengabdian Kapolda Lama Sekaligus Sambut Kapolda Baru

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:32 WIB

BKOW Jawa Barat Hadiri Peringatan 1 Abad Lebih Van Deventer School ke-108 di Bandung

Senin, 12 Oktober 2026 - 10:27 WIB

Golkar Grobogan Matangkan Konsolidasi dan Targetkan Tambahan Kursi DPRD di Rakornis Nasional

Minggu, 11 Oktober 2026 - 14:17 WIB

Golkar Kota Blitar Genjot Konsolidasi, Pasang Target Tambah Kursi di Pemilu Mendatang

Berita Terbaru